Tentang Kami

Awal 2015, saya dan Irman Hidayat, saat itu masih terdaftar sebagai mahasiswa Sastra Indonesia Undip, menerbitkan sebuah zine berisi nukilan terjemahan karya dan profil pengarang asing yang kami suka. Selain karena iseng belaka, sebab kami sama-sama tak pernah bergabung dengan satu pun organisasi kampus, zine ini kami niatkan sebagai sarana berbagi bacaan yang di mata kami cukup berkualitas kepada teman-teman satu kampus.

Zine tersebut akhirnya terbit dua mingguan, disebar secara gratis di area FIB Undip Tembalang, dan kami namai Labirin—waktu itu kami sedang gila-gilanya membaca Borges. Namun Labirin Zine hanya mampu bertahan selama tiga edisi. Sebenarnya materi edisi keempat sudah siap cetak, tapi karena tidak ada uang kami memutuskan untuk menunda penerbitannya.

Pada saat mencari dana inilah kami terpikir untuk menjual buku-buku koleksi pribadi kami yang kemungkinan besar tidak akan dibaca lagi. Berawal di akun pribadi Facebook saya, selang beberapa waktu kegiatan menjual buku bekas tersebut berpindah ke akun Instagram dengan nama yang sama sebagaimana zine kami.

Edisi keempat Labirin Zine tidak pernah terbit, kalau tidak salah karena terpentok KKN sehingga kami lupa, namun toko buku alternatif kami (sebut saja alternatif, sebab jika disebut toko buku bekas pun keliru, karena kini kami juga menjual buku-buku baru) masih bertahan hingga sekarang.

Labirin Zine memang telah lama tamat, tetapi semangat untuk berbagi bacaan yang kami suka tidak pernah surut. Awal 2019, Labirin Buku telah resmi terdaftar sebagai toko buku dan penerbit berbadan hukum.

Sesaat setelah lulus kuliah, kami pikir sudah saatnya toko buku ini berkembang menjadi penerbit. Kami segera memikirkan konsep sebuah rumah penerbitan skala kecil yang berfokus pada penerjemahan karya sastra asing berkualitas, baik klasik maupun kontemporer, oleh pengarang-pengarang yang belum begitu moncer di Indonesia—atau kalaupun sudah moncer, mungkin di kalangan tertentu saja.

Meski sudah berbadan hukum sejak tahun lalu, Labirin Buku sebagai penerbit berjalan begitu lambat. Usaha menerbitkan buku secara tertib dan baik rupanya sulit juga. Sejak awal, kami ingin proses penerbitan buku yang kami lakukan menghargai setiap pelaku perbukuan yang terlibat: mulai dari pengarang, penerjemah, desainer, penjual hingga pembaca. Sebab itulah kami mengusahakan setiap karya terjemahan yang kami terbitkan mendapat lisensi resmi dari penulis terkait.

Selain itu, kami juga bersikeras untuk memaksimalkan kualitas naskah dengan menerjemahkan langsung terbitan kami dari bahasa aslinya, mengusahakan desain sampul dan tata letak yang rapi dan indah, menghargai tangan-tangan yang membantu penerbitan buku kami secara sepadan, dan menekan harga jual serendah yang kami bisa supaya terjangkau seluruh lapisan pembaca.

Gita Nanda, Januari 2020